Tampilkan postingan dengan label puasa sunnah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puasa sunnah. Tampilkan semua postingan

Selasa, 20 Mei 2014

Puasa Nabi Daud - Faedah Dan Ke Istimewaan Nya

                                           


Puasa Nabi Daud - Faedah Dan Ke Istimewaan Nya
Puasa Daud adalah melakukan puasa sehari, dan keesokan harinya tidak berpuasa. Semoga bermanfaat.



بسم لله ارحمن الرحيم

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ أَحَبَّ الصِّيَامِ إِلَى اللَّهِ صِيَامُ دَاوُدَ وَأَحَبَّ الصَّلاَةِ إِلَى اللَّهِ صَلاَةُ دَاوُدَ عَلَيْهِ السَّلاَمُ كَانَ يَنَامُ نِصْفَ اللَّيْلِ وَيَقُومُ ثُلُثَهُ وَيَنَامُ سُدُسَهُ وَكَانَ يَصُومُ يَوْمًا وَيُفْطِرُ يَوْمًا

“Puasa yang paling disukai di sisi Allah adalah puasa Daud, dan shalat yang paling disukai Allah adalah Shalat Nabi Daud. Beliau biasa tidur di pertengahan malam dan bangun pada sepertiga malam terakhir dan beliau tidur lagi pada seperenam  malam terakhir. Sedangkan beliau biasa berpuasa sehari dan buka sehari.

Faedah hadits:

1. Hadits ini menerangkan keutamaan puasa Daud yaitu berpuasa sehari dan berbuka (tidak berpuasa) keesokan harinya. Inilah puasa yang paling dicintai di sisi Allah dan tidak ada lagi puasa yang lebih baik dari itu.

2. Di antara faedah puasa Daud adalah menunaikan hak Allah dengan melakukan ketaatan kepada-Nya dan menunaikan hak badan yaitu dengan mengistirahatkannya (dari makan).

3. Ibadah begitu banyak ragamnya, begitu pula dengan kewajiban yang mesti ditunaikan seorang hamba begitu banyak. Jika seseorang berpuasa setiap hari tanpa henti, maka pasti ia akan meninggalkan beberapa kewajiban. Sehingga dengan menunaikan puasa Daud (sehari berpuasa, sehari tidak), seseorang akan lebih memperhatikan kewajiban-kewajibannya dan ia dapat meletakkan sesuatu sesuai dengan porsi yang benar.


4. Abdullah bin 'Amr sangat semangat melakukan ketaatan. Ia ingin melaksanakan puasa setiap hari tanpa henti, begitu pula ia ingin shalat malam semalam suntuk. Karena ini, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam melarangnya. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam memberi solusi padanya dengan yang lebih baik. Untuk puasa beliau sarankan padanya untuk berpuasa tiga hari setiap bulannya. Namun Abdullah bin 'Amr ngotot ingin mengerjakan lebih dari itu. Lalu beliau beri solusi agar berpuasa sehari dan tidak berpuasa keesokan harinya. Lalu tidak ada lagi yang lebih afdhol dari itu. Begitu pula dengan shalat malam, Nabi shallallallahu 'alaihi wa sallam memberi petunjuk seperti shalat Nabi Daud. Nabi Daud ‘alaihis salam biasa tidur di pertengahan malam pertama hingga sepertiga malam terakhir. Lalu beliau bangun dan mengerjakan shalat hingga seperenam malam terkahir. Setelah itu beliau tidur kembali untuk mengistirahatkan badannya supaya semangat melaksanakan shalat Fajr, berdzikir dan beristigfar di waktu sahur.


5. Berlebih-lebihan hingga melampaui batas dari keadilan dan pertengahan dalam beramal ketika beribadah termasuk bentuk ghuluw (berlebih-lebihan) yang tercela. Hal ini dikarenakan menyelisihi petunjuk Nabawi dan juga dapat melalaikan dari berbagai kewajiban lainnya. Hal ini dapat menyebabkan seseorang malas, kurang semangat dan lemas ketika melaksanakan ibadah lainnya. Ingatlah, sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam.

6. Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin rahimahullah mengatakan, “Puasa Daud sebaiknya hanya dilakukan oleh orang yang mampu dan tidak merasa sulit ketika melakukannya. Jangan sampai ia melakukan puasa ini sampai membuatnya meninggalkan amalan yang disyari’atkan lainnya. Begitu pula jangan sampai puasa ini membuatnya terhalangi untuk belajar ilmu agama. Karena ingat di samping puasa ini masih ada ibadah lainnya yang mesti dilakukan. Jika banyak melakukan puasa malah membuat jadi lemas, maka sudah sepantasnya tidak memperbanyak puasa. ... Wallahul Muwaffiq.”

7. Tidak mengapa jika puasa Daud bertepatan pada hari Jumat atau hari Sabtu karena ketika yang diniatkan adalah melakukan puasa Daud dan bukan melakukan puasa hari Jumat atau hari Sabtu secara khusus.

Masih banyak lagi manfaat dan faedah puasa nabi daud ini Yang belum kami Publikasikan.. insyaallah berapa khasiat lain nya akan di publiskan pada blog ini, jadi buat pengunjung harab bersabar !...

Dan Terima kasih atas kunjungan saudara semua, Semoga bermanfaat !.. amieen ya rabbal alamieen.

Keutamaan Puasa Sunnah 6 Hari di Bulan Syawwal

                                  




Dari Abu Ayyub al-Anshari radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ
“Barangsiapa yang berpuasa (di bulan) Ramadhan, kemudian dia mengikutkannya dengan (puasa sunnah) enam hari di bulan Syawwal, maka (dia akan mendapatkan pahala) seperti puasa setahun penuh.”[1]
Hadits yang agung ini menunjukkan keutamaan puasa sunnah enam hari di bulan Syawwal, yang ini termasuk karunia agung dari Allah kepada hamba-hamba-Nya, dengan kemudahan mendapatkan pahala puasa setahun penuh tanpa adanya kesulitan yang berarti[2].
Mutiara hikmah yang dapat kita petik dari hadits ini:
Pahala perbuatan baik akan dilipatgandakan menjadi sepuluh kali, karena puasa Ramadhan ditambah puasa enam hari di bulan Syawwal menjadi tiga puluh enam hari, pahalanya dilipatgandakan sepuluh kali menjadi tiga ratus enam puluh hari, yaitu sama dengan satu tahun penuh (tahun Hijriyah)[3].
Keutamaan ini adalah bagi orang yang telah menyempurnakan puasa Ramadhan sebulan penuh dan telah mengqadha/membayar (utang puasa Ramadhan) jika ada, berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas: “Barangsiapa yang (telah) berpuasa (di bulan) Ramadhan…”, maka bagi yang mempunyai utang puasa Ramadhan diharuskan menunaikan/membayar utang puasanya dulu, kemudian baru berpuasa Syawwal[4].
Meskipun demikian, barangsiapa yang berpuasa Syawwal sebelum membayar utang puasa Ramadhan, maka puasanya sah, tinggal kewajibannya membayar utang puasa Ramadhan[5].
Lebih utama jika puasa enam hari ini dilakukan berturut-turut, karena termasuk bersegera dalam kebaikan, meskipun dibolehkan tidak berturut-turut.[6]
Lebih utama jika puasa ini dilakukan segera setelah hari raya Idhul Fithri, karena termasuk bersegera dalam kebaikan, menunjukkan kecintaan kepada ibadah puasa serta tidak bosan mengerjakannya, dan supaya nantinya tidak timbul halangan untuk mengerjakannya jika ditunda[7].
Melakukan puasa Syawwal menunjukkan kecintaan seorang muslim kepada ibadah puasa dan bahwa ibadah ini tidak memberatkan dan membosankan, dan ini merupakan pertanda kesempurnaan imannya[8].
Ibadah-ibadah sunnah merupakan penyempurna kekurangan ibadah-ibadah yang wajib, sebagaimana ditunjukkan dalam hadits-hadits yang shahih[9].
Tanda diterimanya suatu amal ibadah oleh Allah, adalah dengan giat melakukan amal ibadah lain setelahnya[10].
Footnote:
[1] HSR Muslim (no. 1164).
[2] Lihat kitab Ahaadiitsush Shiyaam, Ahkaamun wa Aadaab (hal. 157).
[3] Lihat kitab Bahjatun Naazhirin (2/385).
[4] Pendapat ini dikuatkan oleh syaikh Muhammad bin Shaleh al-Utsaimin dalam asy Syarhul Mumti’ (3/100), juga syaikh Sulaiman ar-Ruhaili dan para ulama lainnya.
[5] Lihat keterangan syaikh Abdullah al-Fauzan dalam kitab “Ahaadiitsush shiyaam” (hal. 159).
[6] Lihat kitab asy Syarhul Mumti’ (3/100) dan Ahaadiitsush Shiyaam (hal. 158).
[7] Lihat kitab Ahaadiitsush Shiyaam, Ahkaamun wa Aadaab (hal. 158).
[8] Ibid (hal. 157).
[9] Ibid (hal. 158).
[10] Ibid (hal. 157).

Minggu, 11 Mei 2014

MANFAAT PUASA

                                 
Dr. Yusuf Qardhawi dalam kitabnya Al Ibadah Fil Islam mengungkapkan ada lima rahasia  puasa  yang  bisa  kita  buka  untuk  selanjutnya  bisa  kita  rasakan kenikmatannya dalam ibadah Ramadhan.
1.    Menguatkan Jiwa.  
Dalam hidup hidup, tak sedikit kita dapati manusia yang didominasi oleh hawa nafsunya,  lalu  manusia  itu  menuruti  apapun  yang  menjadi  keinginannya meskipun  keinginan  itu  merupakan  sesuatu  yang  bathil  dan  mengganggu serta merugikan  orang  lain.  Karenanya,  di  dalam  Islam  ada  perintah  untuk memerangi  hawa  nafsu  dalam  arti  berusaha  untuk  bisa mengendalikannya, bukan  membunuh  nafsu  yang  membuat  kita  tidak  mempunyai  keinginan terhadap sesuatu yang bersifat duniawi.  
Manakala dalam peperangan  ini manusia mengalami kekalahan, malapetaka besar akan  terjadi karena manusia yang kalah dalam perang melawan hawa nafsu itu akan mengalihkan penuhanan dari kepada Allah Swt sebagai Tuhan yang benar kepada hawa nafsu yang cenderung mengarahkan manusia pada kesesatan.  Allah  memerintahkan  kita  memperhatikan  masalah  ini  dalam firman-Nya  yang  artinya:  
“Maka  pernahkah  kamu  melihat  orang  yang menjadikan  hawa  nafsunya  sebagai  Tuhannya  dan  Allah  membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya.” (QS 45:23).  
Dengan  ibadah  puasa,  maka  manusia  akan  berhasil  mengendalikan  hawa nafsunya  yang  membuat  jiwanya  menjadi  kuat,  bahkan  dengan  demikian, manusia akan memperoleh derajat yang tinggi seperti layaknya malaikat yang suci  dan  ini  akan membuatnya mampu mengetuk  dan membuka  pintu-pintu langit  hingga  segala  do’anya  dikabulkan  oleh  Allah  Swt,  Rasulullah  Saw bersabda yang artinya:  
“Ada tiga golongan orang yang tidak ditolak do’a mereka: orang yang berpuasa hingga  berbuka,  pemimpin  yang  adil  dan  do’a  orang  yang  dizalimi  (HR. Tirmidzi).
2.    Mendidik Kemauan.  
Puasa mendidik  seseorang  untuk memiliki  kemauan  yang  sungguh-sungguh dalam  kebaikan, meskipun  untuk melaksanakan  kebaikan  itu  terhalang  oleh berbagai  kendala.  Puasa  yang  baik  akan  membuat  seseorang  terus mempertahankan  keinginannya  yang  baik,  meskipun  peluang  untuk menyimpang begitu besar.  
Karena  itu, Rasulullah Saw menyatakan: Puasa  itu setengah dari kesabaran. Dalam kaitan ini, maka puasa akan membuat kekuatan rohani seorang muslim semakin prima. Kekuatan  rohani yang prima akan membuat seseorang  tidak akan lupa diri meskipun telah mencapai keberhasilan atau kenikmatan duniawi yang sangat besar, dan kekuatan rohani juga akan membuat seorang muslim tidak akan berputus asa meskipun penderitaan yang dialami sangat sulit.
3.    Badan.  
Disamping kesehatan dan kekuatan  rohani, puasa yang baik dan benar  juga akan memberikan  pengaruh  positif  berupa  kesehatan  jasmani.  Hal  ini  tidak hanya dinyatakan oleh Rasulullah Saw, tetapi juga sudah dibuktikan oleh para dokter  atau  ahli-ahli  kesehatan  dunia  yang  membuat  kita  tidak  perlu meragukannya  lagi.  Mereka  berkesimpulan  bahwa  pada  saat-saat  tertentu, perut memang  harus  diistirahatkan  dari  bekerja memproses makanan  yang masuk sebagaimana  juga mesin harus diistirahatkan, apalagi di dalam  Islam, isi  perut  kita memang  harus  dibagi menjadi  tiga,  sepertiga  untuk makanan, sepertiga untuk air dan sepertiga untuk udara.
4.    Mengenal Nilai Kenikmatan.  
Dalam  hidup  ini,  sebenarnya  sudah  begitu  banyak  kenikmatan  yang  Allah berikan  kepada  manusia,  tapi  banyak  pula  manusia  yang  tidak  pandai mensyukurinya.  Dapat  satu  tidak  terasa  nikmat  karena  menginginkan  dua, dapat  dua  tidak  terasa  nikmat  karena  menginginkan  tiga  dan  begitulah seterusnya. Padahal kalau manusia mau memperhatikan dan merenungi, apa yang  diperolehnya  sebenarnya  sudah  sangat menyenangkan  karena  begitu banyak  orang  yang memperoleh  sesuatu  tidak  lebih  banyak  atau  tidak  lebih mudah dari apa yang kita peroleh.
Maka  dengan  puasa,  manusia  bukan  hanya  disuruh  memperhatikan  dan merenungi  tentang  kenikmatan  yang  sudah  diperolehnya,  tapi  juga  disuruh merasakan  langsung  betapa  besar  sebenarnya  nikmat  yang  Allah  berikan kepada  kita.  Hal  ini  karena  baru  beberapa  jam  saja  kita  tidak  makan  dan minum  sudah  terasa  betul  penderitaan  yang  kita  alami,  dan  pada  saat  kita berbuka  puasa,  terasa  betul  besarnya  nikmat  dari  Allah  meskipun  hanya berupa sebiji kurma atau seteguk air. Disinilah letak pentingnya ibadah puasa guna mendidik kita untuk menyadari tinggi nilai kenikmatan yang Allah berikan agar  kita  selanjutnya  menjadi  orang  yang  pandai  bersyukur  dan  tidak mengecilkan  arti  kenikmatan  dari  Allah meskipun  dari  segi  jumlah memang sedikit dan kecil.  
Rasa syukur memang akan membuat nikmat  itu bertambah banyak, baik dari segi  jumlah atau paling  tidak dari segi  rasanya, Allah berfirman yang artinya:
“Dan  (ingatlah  juga),  tatkala  Tuhanmu  memaklumkan:  "Sesungguhnya  jika kamu  bersyukur,  pasati Kami  akan menambah  (nikmat)  kepadamu,  dan  jika kamu mengingkari  (nikmat-Ku), maka  sesungguhnya  azab-Ku  sangat  pedih (QS 14:7).
5.    Mengingat dan Merasakan Penderitaan Orang Lain.  
Merasakan  lapar  dan  haus  juga  memberikan  pengalaman  kepada  kita bagaimana  beratnya  penderitaan  yang  dirasakan  orang  lain.  Sebab pengalaman  lapar  dan  haus  yang  kita  rasakan  akan  segera  berakhir  hanya dengan  beberapa  jam,  sementara  penderitaan  orang  lain  entah  kapan  akan berakhir.  
Dari  sini,  semestinya  puasa  akan  menumbuhkan  dan  memantapkan  rasa solidaritas  kita  kepada  kaum muslimin  lainnya  yang mengalami  penderitaan yang  hingga  kini masih  belum  teratasi. Oleh karena  itu, sebagai simbol dari  rasa solidaritas  itu, sebelum Ramadhan berakhir,  kita  diwajibkan  untuk  menunaikan  zakat  agar  dengan  demikian setahap  demi  setahap  kita  bisa  mengatasi  persoalan-persoalan  umat  yang menderita. Bahkan zakat  itu  tidak hanya bagi kepentingan orang yang miskin dan  menderita,  tapi  juga  bagi  kita  yang  mengeluarkannya  agar  dengan demikian, hilang kekotoran  jiwa kita yang berkaitan dengan harta seperti gila harta, kikir dan sebagainya. Allah berfirman yang artinya:
Ambillah zakat dari sebagian  harta  mereka,  dengan  zakat  itu  kamu  membersihkan  dan mensucikan mereka dan mendo’alah untuk mereka. Sesungguhnya do’a kamu itu  (menjadi) ketentraman  jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar  lagi Maha Mengetahui (QS 9:103).


LIHAT YANG LAINNYA KLIK DISINI